Komunikasi Asertif Yang Efektif

Pelatihan Sdm

Komunikasi Asertif Yang Efektif

Komunikasi Asertif Yang Efektif setiap orang memiliki perilaku atau gaya komunikasi yang berbeda. Perbedaan inilah yang menyebabkan seseorang menyampaikan perasaan, kebutuhan, dan pengalamannya kepada orang lain dengan cara yang berbeda-beda pula. Perilaku atau gaya komunikasi merupakan bentuk psikologis yang mempengaruhi individu dalam mengekspresikan perasaan, kebutuhan, dan pengalaman sebagai pengganti komunikasi yang dilakukan secara langsung dan terbuka. Secara khusus, perilaku atau gaya komunikasi mengacu pada kecenderungan individu untuk mengungkapkan perasaan, kebutuhan, dan pikiran melalui pesan tidak langsung dan dampak perilaku. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa sebagian besar komunikasi yang kita lakukan merupakan komunikasi non verbal.

Terdapat beberapa jenis-jenis komunikasi yang umumnya dilakukan oleh kebanyakan orang, yaitu :

1. Komunikasi Pasif

Gaya komunikasi saat individu lebih banyak mendengarkan orang lain yang mengekspresikan pendapat atau perasaannya dibandingkan dirinya. Tujuan komunikasi pasif adalah untuk menghindari konflik dan konfrontasi, serta mencari rasa aman. Individu yang pasif biasanya memiliki harga diri yang relatif rendah dan kurang dapat berkomunikasi dengan efektif untuk mengenali kebutuhannya sendiri. Individu yang pasif cenderung lebih mempercayai orang lain dibandingkan dengan dirinya sendiri.

2. Komunikasi Agresif

Gaya komunikasi saat individu mengekspresikan perasaan dan pendapat mereka untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara menyakiti atau melanggar hak-hak orang lain. Tujuan komunikasi agresif untuk mendominasi dan merasa menang, serta membuat orang lain merasa kehilangan. Kemenangan tersebut didapat melalui cara-cara yang negatif, terkadang memalukan, merendahkan, bahkan meremehkan orang lain sehingga komunikan menjadi lemah atau kurang mampu berekspresi hingga mempertahankan kebutuhan dan hak mereka.

3. Komunikasi Asertif

Gaya komunikasi saat individu secara jelas menyatakan pendapat dan perasaan mereka untuk memenuhi kebutuhan dan hak-hak mereka tanpa melanggar hak asasi orang lain. Tujuan dari komunikasi asertif adalah untuk mendapatkan dan memberikan rasa hormat, fair play, dan membuka ruang untuk kompromi ketika hak-hak dan kebutuhannya menemui konflik dengan orang lain.

Komunikasi asertif sangat penting dalam berbagai konteks komunikasi dan memiliki beberapa manfaat bagi siapa saja yang ingin mengasah keterampilan berkomunikasi, yaitu :

  1. Dapat membantu menghargai diri sendiri.
  2. Mengeksperikan perasaaan secara langsung.
  3. Memperbaiki hubungan dengan orang lain.
  4. Memberikan penghargaan kepada orang lain.
  5. Memberikan kritik secara konstruktif dan proporsional.
  6. Membuat permintaan.
  7. Mengatur keterbatasan yang dimiliki.

Supaya komunikasi asertif dapat berjalan dengan efektif perlu dilakukan beberapa hal, yaitu :

  1. Menggunakan bahasa tubuh. Mengelola kontak mata, menjaga postur tubuh tetap terbuka dan santai. Yakin bahwa ekspresi wajah sejalan dengan pesan yang disampaikan.
  2. Menggunakan pernyatan “aku” atau “saya” seperti “Saya ingin…“ atau “Saya rasa…“. Tetap fokus pada pokok permasalahan bukan fokus pada menyalahkan orang lain.
  3. Menggunakan fakta-fakta, bukan penilaian saat berkomunikasi.
  4. Mengekspresikan kepemilikan pemikiran, perasaan, dan pendapat.
  5. Memberikan kejelasan permintaan secara langsung, jangan mengundang orang lain untuk berkata “tidak”.
  6. Melakukan pengulangan mengenai apa yang menjadi maksud asertor, tujuannya adalah membawa orang lain kembali pada fokus dialog (broken record).
  7. Menghindari memberikan respon defensif secara personal (fogging). Fogging merujuk pada kemampuan seorang asertif dalam menolak serangan yang dilakukan oleh orang lain.
  8. Berhenti berbicara mengenai suatu masalah. Hal ini digunakan ketika seseorang tidak mendengarkan atau menggunakan distraksi untuk menghindari isu atau permasalah yang sedang dibicarakan.
  9. Membiarkan seseorang menenangkan diri sebelum mendiskusikan suatu isu atau permasalahan lebih lanjut.
  10. Melakukan identifikasi mengenai suatu isu yang nyata ketika argumen yang diberikan secara aktual merupakan sesuatu yang lebih besar daripada topik yang dibicarakan.
  11. Waktu yang tepat untuk permasalahan.
  12. Membantu untuk memastikan bahwa asertor memahami orang lain atau orang yang diajak berinteraksi.
  13. Untuk menghindari distraksi, sangatlah penting untuk menjelaskan tentang apa yang ingin dilakukan.
This entry was posted in Pelatihan Pengembangan Diri and tagged . Bookmark the permalink.

Comments are closed.