Pengenalan Fotografi Jurnalistik dan Etika Jurnalistik

pelatihan dan sertifikasi BNSP bidang MSDM/HRD

Pengenalan Fotografi Jurnalistik dan Etika Jurnalistik

 

Pengenalan Fotografi Jurnalistik dan Etika Jurnalistik, Fotografi jurnalistik merupakan hal yang sangat krusial dalam penyampaian informasi dalam sebuah berita. Pengambilan gambar haruslah peka terhadap suatu peristiwa dan momen tertentu sehingga mampu menyoroti sisi lain yang luput dari pandangan masyarakat. Dalam membuat sebuah dokumentasi yang baik, maka diperlukan pemahaman etika dan konsep jurnalistik yang tepat sehingga momen penting yang terjadi pada sebuah kegiatan dapat tersampaikan dengan utuh meskipun hanya melalui sebuah gambar.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan sebuah peristiwa melalui foto, diantaranya yaitu :

1.  Berperilaku sopan

Sebuah pertanyaan yang etis tidak hanya disajikan pada gambar namun dapat diajukan saat jurnalis foto bekerja. Misalnya, apakah mengatakan permisi ketika mengambil foto seseorang dan bagaimana melakukan wawancara untuk melengkapi data.

2.  Menyesuaikan diri dengan kondisi objek

Menyesuaikan diri dengan kondisi objek misalnya, mengenai bagaimana harus tahu membawa diri ketika sedang memotret sebuah acara berkabung. Ketika situasi berkabung jurnalis foto dapat menggunakan lensa tele, berbusana gelap, dan melakukan gerakan seminimal mungkin supaya tidak menjadi pusat perhatian untuk menjaga perasaan objek.

3.  Melakukan pengaturan

Dalam liputan jurnalis foto sering kali melakukan pengaturan untuk memperjelas cerita tentang aktivitas subjek. Terkadang pengaturan dilakukan semateri demi kesempurnaan visual. Pengaturan atau mengarahkan subyek diperbolehkan pada foto feature, namun hanya sebatas pada hal-hal yang tidak memengaruhi cerita. Misalnya pada posisi subjek, seperti posisi objek ketika dipotret diminta merendah atau lebih tinggi, bergeser ke samping atau ke belakang agar mencapai hasil gambar yang maksimal.

4.  Manipulasi foto jurnalistik

Tidak semua foto yang dilihat pembaca di media adalah kebenaran. Foto bisa merupakan hasil manipulasi. Ada beberapa kasus manipulasi jurnalistik. Pembelokan cerita dalam foto yang tidak diketahui pembaca dapat berujung pada kesesatan interpretasi.

5.  Mengubah cerita

Mengubah cerita dalam foto “haram” dilakukan jurnalis dan sangat dilarang bagi seorang fotografer jurnalistik. Hal tersebut sama saja dengan merekayasa fakta. Namun tidak sedikit yang melakukannya yang mana tidak ada bukti berupa film sehingga sangat sulit memastikan bahwa sebuah foto “sahih”.

6.  Penggunaan Photoshop

Penguasaan photoshop merupakan syarat wajib bagi jurnalis foto. Namun dalam penggunaan photoshop, tetap dibuat adanya batasan boleh dan tidaknya.

Fotografi jurnalistik merupakan perwujudan karya fotografi yang dalam visualisasi objeknya lebih ditekankan pada sudut pemberitaan. Oleh karena itu, karya foto yang dihasilkan dalam fotografi jurnalistik harus berorientasi pada peristiwa yang nyata seperti kronologi kehidupan masyarakat sehari-hari dan bukan mengandalkan sikap imajinasi dari kreatorya. Keberadaan karya fotografi jurnalistik telah diikat dengan aturan-aturan dalam dunia jurnalistik atau dunia pemberitaan. Setiap hasil jepretan objek dari kamera fotografer atau wartawan, harus mengandung unsur jurnalistiknya diantaranya yaitu 5W+1H, sehingga hasil yang dikreasikan oleh wartawan dapat memenuhi syarat pencantuman ke dalam materi produksi media massa.