Pengukuran Kualitas Dengan Alat Perencanaan dan Manajemen

pelatihan dan sertifikasi BNSP bidang MSDM/HRD

Pengukuran Kualitas Dengan Alat Perencanaan dan Manajemen

 

Perusahaan perlu melakukan analisis dan perbaikan untuk menjaga agar kualitas produk sesuai dengan keinginan konsumen. Tidak dapat dipungkiri jika kualitas suatu produk merupakan salah satu parameter bagi perusahaan untuk memenangkan kompetisi dalam persaingan usaha. Salah satu pengukuran kualitas (quality measurement) untuk mengurangi cacat pada produk di sebuah perusahaan dengan menggunakan metode seven tools. Dengan menggunakan metode ini, diharapkan dapat digunakan untuk menganalisa mengenai penyimpangan atau cacat pada sebuah produk barang atau jasa yang terjadi serta mencari penyebab dari cacat produk tersebut.

Sebuah organisasi yang bernama Union of Japanese Scientists and Engineers (JUSE) yaitu organisasi yang terdiri dari gabungan para ilmuwan dan insinyur Jepang melihat perlu adanya alat-alat untuk mempromosikan inovasi, memperlancar komunikasi dan mendukung keberhasilan perencanaan proyek-proyek besar. Sebuah tim yang ditugaskan untuk melakukan penelitian ini kemudian mengembangkan 7 alat pengendalian kualitas baru yang dikenal dengan Tujuh Alat Manajemen dan Perencanaan, dalam bahasa Inggris disebut dengan Seven Management and Planning Tools. Tidak semua dari alat ini adalah baru, namun para tim peneliti JUSE inilah yang pertama kali mengumpulkan dan memperkenalkan alat-alat tersebut.

Tujuh (7) Alat Manajemen dan Perencanaan ini diantaranya adalah :

1.  Affinity Diagram (Diagram Afinitas)

Ini digunakan untuk melakukan pengumpulan ide-ide, masalah, opini dan gagasan yang berjumlah besar kemudian mengelompokannya sesuai dengan hubungan alamiahnya. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang Antropologi Jepang yang bernama Kawakita Jiro pada tahun 1960-an sehingga Affinity Diagram juga dikenal sebagai Metode KJ. Pengumpulan ide-ide, masalah, gagasan maupun opini ini dilakukan dengan cara brainstorm (bertukar pikiran).

2.  Relations Diagram (Diagram Hubungan)

Alat yang digunakan untuk menunjukan hubungan sebab akibat yang saling terkait dan faktor-faktor yang terlibat dari berbagai masalah yang kompleks. Relations Diagram ini juga dapat membantu dalam menganalisis hubungan alamiah di antara berbagai aspek yang berbeda dari suatu situasi yang kompleks. Relations Diagram (Diagram Hubungan) juga disebut dengan Network Diagram (Diagram Jaringan Kerja).

3.  Tree Diagram (Diagram Pohon)

Suatu alat yang digunakan untuk memecahkan masalah atau kategori yang luas menjadi tingkatan atau sub-komponen yang lebih rinci dan detail. Tree Diagram merincikan suatu keadaan umum menjadi lebih spesifik. Tree Diagram ini dikenal juga dengan nama Systematic Diagram (Diagram Sistematik) atau Hierarchy Diagram (Diagram Hirarki).

4.  Matrix Diagram

Matrix Diagram menunjukan hubungan antara 2, 3 atau 4 kelompok informasi sehingga dapat memberikan informasi tentang kondisi hubungan tersebut seperti kekuatan hubungan, pengukuran dan peranan dari berbagai individu.

5.  Matrix Data Analysis Chart

Alat yang digunakan untuk mengambilkan data yang ditampilkan dalam diagram X,Y standar sehingga lebih mudah untuk menunjukan kekuatan hubungan antar variabel yang dibandingkan. Matrix Analisis Data membantu dalam mengklasifikasikan item-item dengan cara mengidentifikasi 2 karakteristik utama yang umum (common) dengan semua Item yang diteliti.

6.  Arrow Diagram (Diagram Panah)

Arrow Diagram digunakan dalam menunjukan urutan tugas yang harus dikerjakan dalam suatu proyek , rentang waktu yang digunakan untuk menyelesaikan tugas, perencanaan jadwal keseluruhan proyek dan kemungkinan masalah-masalah yang akan muncul serta solusi-solusi untuk permasalahan tersebut. Arrow Diagram ini juga sering disebut dengan Activity Network Diagram.

7.  Process Decision Program Chart (PDPC)

Ini merupakan alat perencanaan yang digunakan untuk merincikan tugas-tugas ke dalam bentuk Hirarki atau Diagram Pohon (Tree Diagram). Process Decision Program Chart (PDPC) mengidentifikasikan risiko, konsekuensi kegagalan dan tindak kontigensi yang harus dilakukan.