Pelatihan Leading Technology Adoption

Leading Technology Adoption

Leading Technology Adoption menjadi semakin penting ketika organisasi mengimplementasikan teknologi baru tetapi penggunaannya belum tentu berjalan sesuai harapan. Teknologi dapat tersedia secara teknis, namun manfaatnya sulit tercapai apabila pengguna tidak memahami alasan perubahan, merasa tidak dilibatkan, belum memiliki kemampuan yang memadai, atau melihat teknologi baru sebagai ancaman terhadap kenyamanan, peran, maupun kepentingannya.

Dalam praktiknya, resistensi juga tidak selalu muncul secara terbuka. Karyawan dapat terlihat mengikuti keputusan organisasi, tetapi menunjukkan kepatuhan minimal, menggunakan cara lama secara diam-diam, mengkritik perubahan melalui jalur informal, atau sekadar menggunakan teknologi karena terpaksa. Karena itu, pemimpin perlu memahami bahwa adopsi teknologi merupakan proses perubahan perilaku yang dipengaruhi oleh persepsi manfaat, kemampuan, pengaruh sosial, kepercayaan, komunikasi, kepentingan, dan pengalaman pengguna selama proses perubahan.

Leading Technology Adoption membantu pemimpin mengelola sisi manusia dari implementasi teknologi secara lebih terstruktur, mulai dari memahami dinamika penerimaan dan resistensi, membangun komunikasi dan buy-in, menyiapkan capability, mengintegrasikan teknologi ke dalam cara kerja, hingga memastikan penggunaan teknologi berkembang menjadi kebiasaan yang memberikan value bagi organisasi.

 

 

TUJUAN & MANFAAT PELATIHAN

  1. Peserta pelatihan mampu memahami faktor manusia, sosial, dan organisasi yang memengaruhi keberhasilan adopsi teknologi.
  2. Peserta pelatihan mampu mendiagnosis penyebab penerimaan, resistensi, kepatuhan semu, dan rendahnya penggunaan teknologi.
  3. Peserta pelatihan mampu memetakan stakeholder, kepentingan, pengaruh, serta tingkat kesiapan pengguna terhadap perubahan teknologi.
  4. Peserta pelatihan mampu membangun komunikasi, keterlibatan, dan buy-in yang mendukung penerimaan teknologi.
  5. Peserta pelatihan mampu menyiapkan capability, workflow, dan kondisi kerja yang memungkinkan teknologi digunakan secara efektif.
  6. Peserta pelatihan mampu memperkuat penggunaan teknologi hingga menjadi bagian dari kebiasaan kerja dan menghasilkan value secara berkelanjutan.

 

 

MATERI PELATIHAN

1. Understanding Technology Adoption

  • Perbedaan technology implementation, usage, adoption, dan sustained adoption
  • Mengapa teknologi yang berhasil diimplementasikan belum tentu berhasil diadopsi
  • Hubungan antara technology, people, process, dan behavior
  • Adopsi teknologi sebagai perubahan perilaku dan cara kerja
  • Peran pemimpin sebelum, selama, dan setelah implementasi teknologi
  • Mengenali adoption gap antara ketersediaan teknologi dan pemanfaatan nyata

2. Understanding How People Accept Technology

  • Faktor yang memengaruhi keputusan seseorang untuk menggunakan teknologi
  • Technology Acceptance Model (TAM): perceived usefulness dan perceived ease of use
  • UTAUT: performance expectancy, effort expectancy, social influence, dan facilitating conditions
  • Perceived benefit versus perceived cost of change
  • Trust terhadap teknologi dan informasi yang dihasilkan
  • Technology anxiety, loss of competence, dan fear of replacement
  • Menggunakan kerangka akademik sebagai alat diagnosis, bukan sekadar teori

3. Mapping Stakeholders, Interests & Resistance

  • Mengenali stakeholder yang terdampak oleh teknologi
  • Memetakan perceived gain dan perceived loss
  • Dampak teknologi terhadap role, authority, status, autonomy, dan kepentingan
  • Overt resistance versus covert resistance
  • Mengenali passive compliance, cynicism, workaround, dan penggunaan minimal
  • Informal influencers dan dinamika kelompok
  • Membedakan resistance karena ketidakmampuan, ketidakpercayaan, ketidaksetujuan, dan kepentingan
  • Menentukan pendekatan berbeda untuk kelompok pengguna yang berbeda

4. Building Meaning, Communication & Buy-In

  • Menghindari perubahan yang hanya disampaikan sebagai instruksi perusahaan
  • Menjelaskan alasan, tujuan, dan masalah yang ingin diselesaikan melalui teknologi
  • Menghubungkan perubahan dengan manfaat pekerjaan pengguna
  • Menjelaskan apa yang berubah, apa yang tetap, dan apa yang diharapkan
  • Membangun employee voice dan ruang untuk menyampaikan pertanyaan maupun keberatan
  • Procedural fairness dalam proses perubahan
  • Peran pimpinan langsung dalam membangun kepercayaan
  • Mengelola rumor, narasi negatif, dan komunikasi informal

5. Mobilizing Adoption through Social Influence

  • Diffusion of Innovations — Everett Rogers
  • Innovators, Early Adopters, Early Majority, Late Majority, dan Laggards
  • Relative advantage, compatibility, complexity, trialability, dan observability
  • Peran opinion leader dan peer influence
  • Mengidentifikasi early adopters dan change champions
  • Menggunakan social proof dan visible results
  • Menghindari pendekatan komunikasi yang sama untuk seluruh pengguna
  • Mempercepat penyebaran perilaku penggunaan melalui jaringan informal

6. Building Capability & Enabling Behavior

  • Mengidentifikasi capability gap sebelum menuntut adoption
  • COM-B: Capability, Opportunity, Motivation, dan Behavior
  • Training berdasarkan role dan workflow
  • Membedakan feature training dengan workflow enablement
  • Learning by doing, practice, coaching, dan peer learning
  • Menurunkan perceived complexity
  • Menyediakan support dan facilitating conditions
  • Membangun confidence tanpa menciptakan ketergantungan

7. Integrating Human & Technology into the Way of Working

  • Menyesuaikan workflow, role, dan responsibility setelah teknologi diterapkan
  • Menghindari teknologi menjadi pekerjaan tambahan di atas proses lama
  • Menentukan aktivitas lama yang perlu dihentikan atau didesain ulang
  • Human-technology collaboration dalam pekerjaan sehari-hari
  • Menentukan kapan teknologi membantu, merekomendasikan, mengotomasi, atau mengambil alih aktivitas
  • Menentukan area yang tetap membutuhkan human judgment
  • Mengelola underreliance dan overreliance terhadap teknologi
  • Mengintegrasikan penggunaan teknologi ke dalam SOP, target, dan proses kerja

8. Reinforcing, Normalizing & Sustaining Adoption

  • Mengubah penggunaan awal menjadi kebiasaan kerja
  • Manager role modeling dan reinforcement
  • Mengidentifikasi shadow process dan kembali ke cara kerja lama
  • Menggunakan feedback pengguna untuk memperbaiki pengalaman adoption
  • Monitoring adoption melalui usage, proficiency, process, dan outcome indicators
  • Normalization Process Theory: bagaimana praktik baru menjadi bagian normal dari pekerjaan
  • Menjaga ownership setelah fase implementasi selesai
  • Mengevaluasi apakah adoption benar-benar menghasilkan value
  • Continuous improvement dan course correction

 

 

TARGET PESERTA PELATIHAN

Direktur, general manager, division head, business unit leader, senior manager, project leader, line manager, serta pimpinan di bidang technology, transformation, HR, change management, operations, dan fungsi bisnis yang terlibat dalam implementasi teknologi baru.

 

 

METODE PELATIHAN

  • Penyampaian konsep
  • Diskusi kelompok
  • Latihan
  • Studi kasus

 

 

Pelatihan tersedia dalam format online, offline, maupun in house training. Dengan demikian, perusahaan dapat memilih metode pelatihan yang paling sesuai.

Belum menemukan topik pelatihan yang dibutuhkan? Kami juga melayani penyusunan program pelatihan khusus sesuai kebutuhan perusahaan dan pengembangan SDM organisasi.

Silakan menghubungi tim kami untuk konsultasi dan permintaan pelatihan.

Informasi jadwal pelatihan dapat dilihat di sini.

 

 

 

 

 

 

 

Kanaka

Perumahan Griya Sidokarto Village A1, Jalan Alam Hijau, RT:04/RW:09, Semarangan, Sidokarto, Godean, Sleman, DIY 55264
Kontak Kami
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram