Building High Performance Culture
Building High Performance Culture menjadi penting ketika organisasi tidak hanya membutuhkan pencapaian target, tetapi juga ingin membangun cara kerja yang secara konsisten menghasilkan kinerja tinggi. Hasil yang baik dalam jangka pendek belum tentu menunjukkan budaya yang kuat apabila masih bergantung pada individu tertentu, tekanan berlebihan, atau intervensi terus-menerus dari pimpinan.
Budaya berkinerja tinggi terlihat dari bagaimana orang memahami standar yang diharapkan, menjalankan tanggung jawab, bekerja sama lintas fungsi, menyampaikan masalah secara terbuka, memberikan dan menerima feedback, serta tetap menjaga kualitas pekerjaan ketika menghadapi tekanan dan perubahan.
Membangun budaya seperti ini membutuhkan keselarasan antara nilai, perilaku pimpinan, ekspektasi kinerja, sistem penghargaan, accountability, dan kebiasaan kerja sehari-hari. Dengan demikian, performa tinggi tidak hanya menjadi tuntutan, tetapi menjadi pola kerja yang tertanam dan dapat dipertahankan.
TUJUAN & MANFAAT PELATIHAN
- Peserta pelatihan mampu memahami karakteristik budaya berkinerja tinggi serta hubungannya dengan perilaku dan hasil organisasi.
- Peserta pelatihan mampu menerjemahkan nilai dan prioritas organisasi menjadi perilaku serta standar kerja yang jelas.
- Peserta pelatihan mampu memperkuat peran pemimpin sebagai role model dalam membangun budaya kinerja.
- Peserta pelatihan mampu membangun accountability, ownership, dan performance discipline tanpa menciptakan blame culture.
- Peserta pelatihan mampu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kolaborasi, psychological safety, feedback, dan continuous improvement.
- Peserta pelatihan mampu memperkuat serta mempertahankan budaya kinerja tinggi melalui sistem, recognition, dan kebiasaan organisasi yang konsisten.
MATERI PELATIHAN
1. Understanding High Performance Culture
- Pengertian dan karakteristik budaya berkinerja tinggi
- Hubungan antara budaya kerja, perilaku, dan kinerja organisasi
- Perbedaan antara high performance dan tekanan kerja yang berlebihan
- Faktor yang mendukung atau menghambat budaya kinerja
- Perbedaan antara budaya yang kuat dan budaya yang benar-benar mendukung kinerja
- Mengidentifikasi kesenjangan antara budaya kerja saat ini dan kinerja yang diharapkan
2. Translating Values into Performance Behaviors
- Menghubungkan nilai organisasi dengan strategi dan prioritas bisnis
- Menerjemahkan core values menjadi perilaku kerja yang dapat diamati
- Menentukan perilaku kunci yang mendukung kinerja
- Memperjelas perilaku yang diharapkan dalam pekerjaan sehari-hari
- Menghindari nilai organisasi yang hanya berhenti sebagai slogan
- Menjaga konsistensi perilaku di berbagai level dan fungsi
3. Leadership as a Culture Driver
- Peran pemimpin dalam membentuk norma dan kebiasaan kerja
- Menjadi teladan dalam menjalankan nilai dan standar kerja
- Menjaga konsistensi antara ucapan dan tindakan
- Respons pemimpin terhadap keberhasilan, kesalahan, dan kinerja yang belum sesuai harapan
- Mengenali perilaku pimpinan yang memperkuat atau justru melemahkan budaya
- Mengembangkan pemimpin sebagai penggerak budaya di unit kerja
4. Building Clear Performance Expectations
- Menetapkan standar kinerja yang jelas
- Menyelaraskan target, prioritas, standar, dan perilaku kerja
- Memperjelas peran dan tanggung jawab
- Memperjelas kontribusi setiap pihak terhadap hasil
- Menghindari ekspektasi kerja yang saling bertentangan
- Menjaga kejelasan ekspektasi ketika prioritas berubah
5. Strengthening Accountability & Ownership
- Memahami perbedaan accountability, responsibility, dan blame
- Membangun rasa memiliki terhadap pekerjaan dan hasil
- Menjaga komitmen dan konsistensi dalam menyelesaikan tanggung jawab
- Menangani komitmen yang tidak terpenuhi secara objektif
- Mengurangi budaya mencari alasan dan saling menyalahkan
- Menjaga accountability tanpa micromanagement
- Menangani kinerja yang terus berada di bawah standar
6. Building Trust, Psychological Safety & Collaboration
- Membangun trust sebagai fondasi kinerja
- Menciptakan psychological safety agar karyawan berani menyampaikan masalah dan kondisi yang sebenarnya
- Mendorong perbedaan pendapat yang konstruktif
- Mengurangi silo antarunit
- Membangun tujuan bersama dan tanggung jawab kolektif
- Memperkuat pertukaran informasi dan kolaborasi lintas fungsi
- Menjaga keterbukaan tanpa menurunkan standar kinerja
7. Creating a Feedback & Performance Learning Culture
- Memberikan feedback yang tepat waktu, spesifik, dan membangun
- Membangun performance conversation yang terbuka dan objektif
- Memberikan recognition terhadap perilaku dan hasil yang sesuai
- Menangani percakapan kinerja yang sulit secara profesional
- Belajar dari kesalahan tanpa menghilangkan accountability
- Melakukan evaluasi dan refleksi setelah pekerjaan atau kegiatan penting
- Mengubah feedback dan pembelajaran menjadi perbaikan cara kerja
8. Reinforcing High Performance Behaviors
- Menyelaraskan recognition dan reward dengan perilaku yang diharapkan
- Menggunakan performance management untuk memperkuat budaya kinerja
- Menyelaraskan promosi dan keputusan pengembangan talent dengan budaya yang diharapkan
- Memanfaatkan meeting, komunikasi, kebiasaan, dan simbol organisasi untuk memperkuat budaya
- Memberikan penguatan terhadap perilaku yang mendukung kinerja
- Menghindari penghargaan terhadap hasil yang dicapai melalui perilaku yang bertentangan dengan nilai organisasi
9. Mengatasi Hambatan Budaya terhadap Kinerja
- Complacency atau rasa cepat puas terhadap kondisi saat ini
- Rendahnya accountability
- Silo mentality
- Kebiasaan menghindari percakapan yang sulit
- Budaya kerja berbasis ketakutan
- Passive resistance
- Ketergantungan berlebihan pada individu tertentu
- Menentukan hambatan budaya yang paling memengaruhi kinerja
10. Sustaining High Performance Culture
- Menjaga konsistensi budaya dalam jangka panjang
- Mengintegrasikan budaya ke dalam onboarding dan praktik pengelolaan SDM
- Mengembangkan pemimpin sebagai teladan dan penggerak budaya
- Memantau perubahan perilaku dan kondisi budaya
- Menyesuaikan mekanisme penguatan ketika kondisi organisasi berubah
- Menjaga keseimbangan antara tuntutan kinerja tinggi dan beban kerja yang sehat
- Melakukan continuous improvement terhadap budaya dan cara kerja
11. High Performance Culture Application
- Mengidentifikasi kondisi budaya kerja saat ini
- Menentukan kesenjangan antara budaya dan kinerja yang diharapkan
- Menetapkan perilaku kunci yang perlu diperkuat
- Mengidentifikasi area accountability dan kolaborasi yang perlu diperbaiki
- Menentukan mekanisme penguatan yang sesuai
- Menentukan prioritas intervensi budaya
- Menyusun langkah penguatan high performance culture
TARGET PESERTA PELATIHAN
Direktur, general manager, division head, department head, senior manager, HR/OD professional, culture champion, serta pemimpin yang bertanggung jawab membangun dan memperkuat budaya kinerja organisasi.
METODE PELATIHAN
- Penyampaian konsep
- Diskusi kelompok
- Latihan
- Studi kasus
Pelatihan tersedia dalam format online, offline, maupun in house training. Dengan demikian, perusahaan dapat memilih metode pelatihan yang paling sesuai.
Belum menemukan topik pelatihan yang dibutuhkan? Kami juga melayani penyusunan program pelatihan khusus sesuai kebutuhan perusahaan dan pengembangan SDM organisasi.
Silakan menghubungi tim kami untuk konsultasi dan permintaan pelatihan.
Informasi jadwal pelatihan dapat dilihat di sini.

